-->

Dualisme Yayasan UDA Berujung Sandera Ijazah, AKDA : Ini Bukan Salah Mahasiswa

Editor: Dicky author photo

 

Koordinator AKDA, Liston Hutajulu. (Foto : agiodeli.id/Dicky)

Agiodeli.id - Logika Yayasan Darma Agung dinilai tidak masuk akal. Mahasiswa sudah bayar kuliah pakai kwitansi sah, sudah diberi PIN Ijazah Nasional, sudah diwisuda oleh yayasan baru pimpinan Hana Nelsri Kaban, tapi ijazah malah ditahan dengan alasan belum bayar ke yayasan baru.

Aliansi Keadilan Darma Agung (AKDA) menyebut ini pemerasan.

"Ini kan lucu. Mahasiswa sudah diluluskan dan diwisuda oleh yayasan baru sendiri di September 2025, kok sekarang dibilang belum bayar ke yayasan baru? Kalau belum bayar, kenapa dulu diluluskan dan diberi PIN?" sentil Koordinator AKDA Liston Hutajulu, Rabu (23/9/2026).

Liston membongkar, uang kuliah itu dibayarkan mahasiswa ke Rektorat resmi saat itu yang dipimpin Dr. Lilis S. Gultom dan ada kwitansinya. Bukan tidak bayar.

"YPDA yang sekarang harusnya nagih pertanggungjawaban ke yayasan lama Partahi Siregar, bukan nagih lagi ke mahasiswa. Jangan alumni disuruh bayar dua kali," tegasnya.

AKDA mengungkap borok paling fatal: dualisme yayasan ini cuma ganti baju. Pembina yayasan lama dan baru orangnya sama: *Richard Elias Pardede.*

"Jadi tidaklah sulit bagi yayasan baru untuk meminta laporan keuangan dari yayasan lama. Sebab dalam susunan pengurus di yayasan lama yang saya ketahui nama Richard Elias Pardede adalah Pembina di yayasan itu juga. Kok jadi mahasiswa yang dikorbankan?" pungkas Liston, alumni Teknik UDA itu.

Padahal dalam Notula Rapat resmi bersama LLDIKTI Sumut tanggal 30 Maret 2026 sudah disepakati: tidak ada sidang ulang, tidak ada kutipan biaya di luar ketentuan LLDIKTI, dan ijazah tidak boleh dipersulit.

AKDA pun mendesak Hana Nelsri Kaban stop sandera ijazah alumni. (red)

Share:
Komentar

Berita Terkini

 
Desain: indotema.com