![]() |
| Ketua APPARA Indonesia, Muhammad Aulia. |
Penulis : Ketua Asosiasi Pengusaha Pelaksana dan Penyelenggara Acara (APPARA) Indonesia, Muhammad Aulia
Agiodeli.id - Selama ini kita salah kaprah. Kita menganggap Pariwisata itu hanya soal Danau Toba, hanya soal gedung Maimun, hanya soal foto-foto cantik untuk Instagram. Padahal pariwisata yang sesungguhnya adalah tentang 'manusia di dalamnya'.
Apa gunanya wisatawan datang ke Sumut - Medan, kalau uangnya hanya mampir di hotel bintang lima, lalu pergi lagi? Apa gunanya kita punya destinasi indah, kalau pemuda di kampungnya sendiri hanya jadi penonton?
Di sinilah ekonomi kreatif harus masuk. Bukan sebagai pelengkap, tapi sebagai mata rantai.
1. Pariwisata Tanpa Ekonomi Kreatif Itu Bocor
Wisatawan datang ke Sumut - Medan. Dia butuh makan. Kalau yang dia makan adalah makanan franchise luar, bocor.
Dia butuh baju. Kalau yang dia beli baju impor, bocor.
Dia butuh tontonan. Kalau yang dia tonton film Jakarta atau Korea terus, bocor.
Mata rantai itu putus di tengah jalan. Uang datang, tapi tidak mengakar di masyarakat.
Seharusnya alurnya begini:
*Wisatawan Datang -> Nonton Film Lokal di Bioskop Rakyat -> Makan di UMKM Lokal -> Beli Baju Karya Desainer
-> Menginap di Homestay Warga.
Itu baru pariwisata yang menjadi sumber ekonomi. Uangnya berputar di kampung kita sendiri.
2. Ekonomi Kreatif Adalah Wajah Jujur Sumut - Medan
Sumut, Medan Tanpa Polesan. Itulah kekuatan kita.
Kita tidak perlu memoles Medan dan Kabupaten/Kota lainnya jadi seperti Bali atau seperti Singapura. Medan dan Kabupaten kota lainnya punya karakternya sendiri: Keras, jujur, apa adanya, tapi punya selera tinggi.
Inilah yang dijual ekonomi kreatif:
- Bukan sekadar kain, tapi cerita di balik butik yang dibangun dari nol. Ada kain songket, ulos yang sudah mendunia.
- Bukan sekadar kopi, tapi cerita petani kopi Sidikalang.
- Bukan sekadar film, tapi cerita anak Marelan yang bikin film pakai HP tapi ditonton satu kampung.
Wisatawan zaman sekarang tidak mencari yang sempurna. Mereka mencari yang autentik. Keautentikan itu ada di Bioskop Rakyat, ada di pasar, ada di gang-gang kecil Kabupaten/Kota Khususnya Kota Medan sebagai kota nomor 3 di Indonesia yang sedang menuju Kota Megapolitan.
3. Apa Yang Harus Kita Lakukan?
Saya mengusulkan 3 langkah konkret:
Pertama: Sambungkan Titiknya.
Dinas Pariwisata jangan jalan sendiri, Dinas UMKM dan Instansi terkait jangan jalan sendiri. Buat satu kalender: Setiap ada event pariwisata, wajib ada panggung untuk ekonomi kreatif lokal. Setiap Bioskop Rakyat tayang, wajib ada UMKM Kriya dan kuliner gastronomic yang ikut jualan.
Kedua: Beri Panggung, Bukan Hanya Bantuan
Masyarakat tidak butuh dikasihani. Mereka butuh diberi layar. Beri mereka layar untuk memutar filmnya. Beri mereka lapak untuk menjual bajunya. Beri mereka panggung untuk memainkan musiknya. Dari panggung itu, ekonomi akan tumbuh sendiri.
Ketiga: Jadikan Warga Sebagai Pemilik Cerita
Jangan jadikan warga Sumut, Kota Medan Khususnya sebagai pelayan pariwisata. Jadikan mereka pemiliknya. Biarkan mereka yang jadi sutradara, yang jadi desainer, yang jadi pemandu wisata yang menceritakan kisahnya sendiri. Tanpa polesan.
Jika pariwisata adalah tubuhnya, maka ekonomi kreatif adalah darahnya.
Tanpa darah, tubuh itu mati. Tanpa ekonomi kreatif yang mengakar di masyarakat, pariwisata Medan dan Kabupaten/Kota lainnya hanya akan jadi etalase kosong yang indah di luar, tapi sepi di dalam.
Mari kita bangun mata rantai itu. Dari gang ke kota. Dari kampung ke layar bioskop. Dari karya kecil menjadi sumber ekonomi yang besar.
SUMUT - Medan tidak perlu dipoles untuk terlihat hebat. SUMUT hanya perlu diberi kesempatan untuk jujur.
