![]() |
| Anggota Komisi V DPR RI, Musa Rajekshah. (Foto : kolase Instagram @musa_rajekshah). |
Agiodeli.id - Anggota Komisi V DPR RI, Musa Rajekshah mengusulkan agar program tanggap bencana dimasukkan ke dalam kurikulum pembelajaran di sekolah.
Musa Rajekshah menilai pengetahuan tanggap bencana merupakan hal penting yang harus diketahui oleh para pelajar di Indonesia sejak dini.
"Karakter tanggap bencana harus terbangun sejak usia dini. Makanya, sudah selayaknyalah tanggap bencana ini dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah," papar Ijeck sapaan akrab Musa Rajekshah saat diwawancarai awak media.
Bukan tanpa alasan, Ijeck menilai angaran Basarnas atau Badan Nasional Pencairan dan Pertolongan yang dulunya dikenal dengan Badan SAR Nasional, kecil.
Terlebih lagi, baik anggaran Basarnas 2025 mengalami efesiensi anggaran.
Diketahui, anggaran Basarnas 2025 ditetapkan sebesar Rp 1,01 triliun setelah mengalami efisiensi belanja sebesar Rp 486 miliar dari pagu awal Rp 1,49 triliun.
Hal itu membuat Basarnas tidak memiliki anggaran yang cukup untuk mensosialisasikan tanggap bencana ke seluruh Indonesia.
"Saya melihat hal ini, dengan keterbatasan anggaran yang tidak begitu banyak di Basarnas dan saya melihat juga BMKG melakukan pelatihan kepada nelayan terkait cuaca. Saya menilai ini penting," ujarnya.
"Tidak hanya sekedar program dari kementerian atau badan, tapi juga pengetahuan buat anak-anak kita. Ini menjadi lebih efektif bila kita memasukkannya ke dalam kurikulum pembelajaran, mulai dari tingkat SD, SMP dan SMA," sambung Ijeck.
Sebagai negara maritim yang memiliki bentangan laut yang luas, Ijeck menilai bahwa Indonesia harus memiliki pos Basarnas yang banyak.
"Tapi, ini perlu anggaran yang besar untuk membangun pos-pos ini. Tidak hanya membangun pos, tapi juga peralatan dan perlengkapan lainnya," ungkapnya.
Selain itu, Ijeck juga tidak memungkiri bahwa Basarnas memiliki anggaran
untuk pelatihan SAR. Tapi, tetap saja jumlah lersonilnya juga terbatas.
"Makanya, tidak ada salahnya bila kita masukkan tanggap bencana ini ke dalam kurikulum belajar.
"Memang ini, buahnya tidak sekarang, bisa jadi 10 sampai 15 tahun mendatang. Tapi, ini akan menjadi bekal pengetahuan yang baik untuk para pelajar dalam menghadapi tanggap bencana," pungkasnya. (dicky)
