
Produk kerajinan sulam Deli Maya Sari Handicraft. FOTO: ISTIMEWA
AgioDeli.ID – Deli Maya Sari Handicraft dan Markisa
Noerlen menjadi potret usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Medan yang
terus memancarkan optimisme di tengah terpaan pandemo Covid-19.
Tak terasa, pandemi sudah berjalan hampir tiga tahun dan
dunia pun berubah. Hampir semua lini kehidupan terdampak wabah virus menular dan
mematikan itu.
Tim Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi (KemenkoMarves) yang berkunjung mengulik keberadaan UMKM di Medan, pekan kedua Juni
2022, menemukan fakta betapa optimisme membuat pengelola Deli Maya Sari Handicraft
dan Markisa Noerlen mampu mempertahankan bisnisnya dan bahkan bangkit dari
keterpurukan.
“Usaha ini dimulai sejak 1976. Awal mulanya dari
kecintaan kepada kerajinan tangan, khususnya strimin kristik. Lambat laun
berkembang dan kita teruskan. Terus berkembang hingga saat ini,” kisah Aji, pengelola
Deli Maya Sari Handicraft, menjawab tanya Tim Kemenko Marves.
Selama pandemi, lanjut Aji, banyak perubahan dan dampak
yang dirasakan dalam menjalankan usaha. Mulai pemasaran yang sulit, minimnya
omzet, dan minimnya pengunjung yang datang langsung membeli produk. Otomatis,
berdampak pada kelangsungan usaha.
Kendati demikian, Aji dan manajemennya tetap semangat dan
yakin bisa bertahan. Bahkan, bangkit dari kondisi sulit. Seiring berjalannya
waktu, meskipun pandemi belum berlalu, usahanya bisa kembali berjalan baik.
“Sekarang pembelinya sudah lebih banyak online. Omzetnya
5 juta-an rupiah per hari,” ungkapnya.
Sebelum pandemi melanda, pengunjung yang datang ke
tokonya dalam sehari bisa mencapai 30 orang. Angka itu jauh menurun di masa
pandemi.
Berbeda dengan orang lain, para pecinta kerajinan strimin
kristik seolah tak terusik pandemi. Tetap saja ada yang datang langsung membeli
produk tersebut.
Bertahannya UMKM Deli Maya Sari Handicraft bukan tanpa
alasan. Aji menyebut kualitas produk yang dijaga baik sebagai penopang utama.
Tahun 80-an, kenangnya, produk ini memperoleh penghargaan
dari Presiden RI. “Tahun 1986 kita sudah dapat penghargaan dari Presiden
Soeharto,” katanya.
Bisnis kerajinan sulaman Deli Maya Sari Handicraft
dirintis sejak 1976 oleh Tiurlan T. Siahaan yang dikenal sudah mencintai
kerajinan ini sejak kecil. Seiring waktu, usaha sulaman terus berkembang dan
menunjukkan konsistensi hingga akhirnya dikenal sebagai pusat oleh-oleh khas
Medan.
Meskipun Deli Maya Sari Handicraft ini mampu bertahan selama
46 tahun, Aji menyadari betul pihaknya membutuhkan “sentuhan” dan perhatian
pemerintah. Ia berharap pemerintah agar memberi dorongan nyata agar UMKM bisa “naik
kelas".
Saat ini, ada puluhan jenis kerajinan strimin kristik
yang dihasilkan Deli Maya Sari Handicraft. Sebut saja tas, dompet, alas meja,
tudung saji, telekung, dan banyak lainnya.
Untuk urusan harga produk, wisatawan atau calon pembeli
tidak perlu khawatir. Pasalnya, harga masih sangat terjangkau. Ada yang hanya Rp20
ribu, meski ada pula yang bernilai jutaan rupiah.

Proses produksi Markisa Noerlen. FOTO: ISTIMEWA
Konsistensi Menjadi Kunci

Cerita menarik dan inspiratif lainnya datang dari UMKM berlabel
Markisa Noerlen. Sesuai namanya, usaha ini menghasilkan produk-produk olahan
berbahan baku buah markisa.
Markisa Noerlen dirintis tahun 1985 dan nama Noerlen
sendiri diambil dari sang pendiri, Hj Noerlen. Dalam perjalanannya hingga kini,
Markisa Noerlen sudah menjadi pusat oleh-oleh yang sangat legendaris di Medan.
“Ini awalnya dari Ibu Noerlen, ibu saya, sekitar 1985
usaha markisa ini dimulai. Dulu masih iseng-iseng, ibu senang kasih oleh-oleh.
Waktu itu salah satu keponakannya berkomentar ini markisa sangat enak, kenapa
tidak dibisniskan? Begitulah awalnya usaha ini dimulai,” kata Riswan, anak
keempat dari almarhumah Noerlen, mengawali perbincangan.
Sejak perintis usaha Markisa Noerlen ini meninggal, usaha
UMKM rumahan ini kini diteruskan oleh Riswan bersama saudara-saudaranya. Hingga
kini sudah ada beberapa jenis produk yang dihasilkan dan dipasarkan, seperti
sirup markisa, selai markisa, sari markisa, minuman markisa polos, dan minuman
markisa bulir.
“Kita enggak pakai bahan pangawet, pewarna, dan perasa
buatan,” kata pria yang akrab disapa Bang Iwan ini.
Konsisten menjaga kemurnian rasa. Ini yang menurut Iwan
menjadi kunci mengapa Markisa Noerlen mampu bertahan walau diterjang pandemi.
“Dari mulai ibu saya dan hingga sekarang, produk ini
tidak berubah dan konsisten dengan mutunya, baik bahan hingga cara
pembuatannya,” ungkapnya.
“Kunci untuk bertahan, kita harus yakin dengan produk kita
dan kita tetap konsisten,” tegas pria kelahiran Pematangsiantar, 10 Juni 1963
ini pula.
Bicara pandemi, Iwan menuturkan usaha yang dijalankan
memang terdampak. Kendati demikian, ia tak risau dan tak mau menyerah begitu
saja. Ia tetap optimistis bisa melalui hambatan ini.
Begitulah kisah Aji dan Iwan yang dibagikan kepada tim
Kemenko Marves saat mengulik UMKM di Kota Medan beberapa waktu lalu.