![]() |
| Anggota Komisi V DPR RI Musa Rajekshah dalam Kunjungan Kerja Spesifik Komisi V DPR RI ke kantor AirNav Indonesia di Kompleks Bandara Internasional Soekarno–Hatta, Tangerang, (22/5). Foto: dpr.go.id |
Agiodeli.id - Warga Sumatera Utara (Sumut) lebih memilih transit lewat Malaysia dan Singapura dikarenakan harga tiket pesawat domestik naik menjadi sorotan Anggota Komisi V DPR RI, Musa Rajekshah.
Menurut Musa, harga penerbangan langsung menuju Sumatera sering kali lebih mahal dibanding rute internasional ke negara tetangga. Kondisi ini terjadi berulang, bukan hanya saat harga avtur naik.
“Harga penerbangan tiket yang melonjak yang kita tidak tahu apa penyebabnya. Kalau sekarang ini memang karena avtur harga yang naik. Tapi sebelum-sebelumnya juga harga tiket naik. Ini juga yang selalu menjadi pertanyaan,” kata Musa saat Kunjungan Kerja Spesifik Komisi V DPR RI di kantor AirNav Indonesia, Bandara Soekarno–Hatta, Jumat (22/5/2026).
Musa menyebut banyak konstituen di Dapil Sumatera Utara I yang akhirnya mengalihkan rute. Alih-alih terbang langsung, mereka memilih penerbangan internasional terdekat karena tarifnya lebih terjangkau.
“Ya kita berulang kali ya, saya khususnya karena dapil di Sumatera Utara mengalami hal yang memang kita lihat penerbangan penuh kita pindah ke jalur. Ngambil internasional terdekat Malaysia-Singapura ternyata lebih murah,” paparnya.
Ia mempertanyakan komponen biaya yang membuat tiket domestik mahal. Mulai dari perbedaan harga ground handling hingga harga avtur yang dinilai tidak selaras dengan negara tetangga.
“Ini juga yang kita selalu bertanya, yang belum dapat jawabannya. Apakah ground handling kita beda harga atau karena harga avtur kita memang beda dengan harga tetangga,” kata politisi Golkar itu.
Komisi V DPR RI kini mendorong pemerintah menetapkan sistem pengawasan yang jelas untuk batas atas dan bawah kenaikan tarif. Musa menegaskan masyarakat tidak boleh terus dibebani harga tiket yang fluktuatif tanpa kepastian.
“Kami berharap bisa mengawasi dan pemerintah khususnya pemerintah yang berhubungan bisa melihat berapa sih ambang batas atas kenaikan tiket atau batas bawah kenaikan harga tiket,” lanjutnya.
Musa juga meminta transparansi mekanisme penetapan tarif, terutama saat periode mobilitas tinggi seperti menjelang hari besar keagamaan. Ia mengingatkan maskapai agar tidak hanya mengejar keuntungan bisnis tanpa mempertimbangkan keterjangkauan masyarakat.
“Maskapai penerbangan ini tidak semata-mata untuk bisnis penerbangan, tapi juga melihat harga tiket ini tidak sesuka hati itu naik harga tiket ini,” pungkasnya. (Dicky)
