Pemkab Sergai Berkomitmen Turunkan Angka Stunting

Editor: AgioDeli.id author photo

Gerakan Gemar Makan Ikan
Ketua TP PKK Kabupaten Sergai, Ny. Hj. Rosmaida Darma Wijaya (tengah) secara berkesinambungan mengkampanyekan Gerakan Makan Ikan (Gemarikan) dalam rangka mencegah dan menekan angka stunting di Kabupaten Sergai, Sumatera Utara. Tampak panganan hasil olahan ikan yang dikreasikan kader PKK khusus agar anak-anak gemar makan ikanFOTO: DISKOMINFO SERGAI 

BAGI
sebagian masyarakat, istilah stunting mungkin masih terdengar asing. Namun, ini merupakan masalah kesehatan yang umum terjadi di Indonesia dan memerlukan berbagai upaya untuk pencegahannya.

Secara umum, stunting adalah salah satu penyakit kronis yang memengaruhi pertumbuhan anak. Oleh karenanya, stunting merupakan salah satu masalah kesehatan yang cukup membahayakan.

Perlu dipahami faktor-faktor penyebab stunting. Dengan begitu, kita bisa melakukan langkah-langkah preventif untuk menghindarinya.

Stunting memiliki beberapa gejala yang bisa dikenali, misalnya:

       Wajah tampak lebih muda dari anak seusianya

       Pertumbuhan tubuh dan gigi yang terlambat

       Memiliki kemampuan fokus dan memori belajar yang buruk

       Pubertas yang lambat

       Saat menginjak usia 8-10 tahun, anak cenderung lebih pendiam dan tidak banyak melakukan kontak mata dengan orang sekitarnya

       Berat badan lebih ringan untuk anak seusianya

Target 2024, Stunting di Sergai Kurang dari 14 Persen


Adlin Umar Yusri Tambunan
Wakil Bupati Sergai, H. Adlin Yusri Tambunan menandatangani nota kesepahaman bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Sergai untuk menekan angka stunting di Kabupaten Sergai. FOTO: DISKOMINFO SERGAI

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serdang Bedagai (Sergai), Sumatera Utara, berkomitmen tinggi menurunkan angka stunting di Tanah Bertuah Negeri Beradat.

Hal itu disampaikan Wakil Bupati (Wabup) Sergai H Adlin Umar Yusri Tambunan saat menghadiri Rapat Koordinasi (Rakor) dan Evaluasi Percepatan Penurunan Stunting Tahun 2022, yang digelar di Hotel Swiss Belinn, Jalan Gajah Mada No. 46, Medan, 6 Desember 2022.

Rakor dilaksanakan dengan tujuan menguatkan komitmen dan sinergi seluruh pihak terkait sebagai upaya Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) di kabupaten/kota se-Sumut tahun 2022.

“Tujuan dari rakor ini adalah agar pihak terkait terus meningkatkan apa yang menjadi hal-hal utama dalam mempercepat penurunan angka stunting di Sumut. Di antaranya yang pertama, meningkatkan penguatan dan percepatan pencapaian sasaran program Bangga Kencana dan Penurunan Stunting yang dilaksanakan secara bersinergi dan kolaboratif dengan pendekatan pentahelix. Kedua, mendorong aksi nyata dalam penurunan percepatan stunting. Ketiga, menyusun Rencana Tindak Lanjut Percepatan Penurunan Stunting. Selanjutnya keempat, memperkuat kerjasama multipihak dalam mendukung upaya percepatan penurunan stunting,” kata Wabup selaku Ketua Tim PPS Sergai.

Terbaru, wujud keseriusan Pemkab Sergai adalah dengan menggelar rapat membahas penyusunan regulasi daerah terkait stunting. Penyusunan regulasi ini melibatkan seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) dan stakeholder nonpemerintahan.

Selain itu, Pemkab Sergai juga berkomitmen menekan persentase stunting lewat Pengukuran dan Publikasi Stunting yang digelar di Aula Puskesmas Desa Pon pada Selasa, 13 Desember 2022.

Bupati Sergai H. Darma Wijaya, melalui Sekretaris Daerah Kabupaten (Sekdakab) Faisal Hasrimy, memaparkan bahwa organisasi kesehatan dunia (WHO) menyebut batasan prevalensi stunting di suatu wilayah adalah sebesar 20 persen.

Secara nasional, jelasnya pula, berdasarkan data dari survei status gizi indonesia (SSGI), prevalensi stunting menurun dari 30,8% pada tahun 2018 menjadi 24,4% pada 2021.

Fakta tersebut berbanding lurus dengan kondisi Kabupaten Sergai yang juga mengalami penurunan prevalensi stunting dari 36,2% pada tahun 2019 menjadi 20% pada 2021.

Meski Sergai mengalami progres pemberantasan stunting yang sangat baik, menurut dia, hal tersebut tidak lantas membuat seluruh pihak boleh berpuas diri. Sebab, target prevalensi stunting yang harus dikejar sesuai dengan target Sustainable Development Goals (SDGs) yaitu 0 (nol) persen prevalensi stunting pada 2030 di Indonesia.

“Melalui pengukuran dan publikasi ini, kita memeroleh data prevalensi stunting terkini pada skala layanan puskesmas, kecamatan dan desa. Hasil pengukuran panjang badan dan tinggi badan anak di bawah umur 5 tahun dapat digunakan untuk memperkuat komitmen pemerintah daerah dan masyarakat dalam gerakan konvergensi percepatan penurunan pencegahan dan penanggulangan stunting. Hal tersebutlah yang menjadi dasar kita melaksanakan kegiatan pengukuran dan publikasi,” kata Sekda Faisal.

Gandeng Kader TP PKK untuk Cegah Stunting

Pengukuran dan Publikasi Stunting yang digelar di Aula Puskesmas Desa Pon pada Selasa13 Desember 2022. FOTO: DISKOMINFO SERGAI

Upaya terbaru Pemkab Sergai untuk meminimalisir stunting adalah dengan mengkampanyekan program Gerakan Makan Ikan (Gemarikan). Gemarikan diharapkan dapat meningkatkan konsumsi ikan di Tanah Bertuah Negeri Beradat, terutama pada ibu dan anak.

Sebagai contoh, pencanangan kegiatan Gemarikan di TK Sehati, Desa Kwala Bali, Kecamatan Serbajadi pada 5 Desember 2022. Kegiatan ini bertujuan mendukung kesehatan masyarakat dan penanganan kasus stunting atau gizi buruk pada anak-anak di Sergai.

Dalam kesempatan itu, Bupati Darma Wijaya yang turut hadir menyampaikan bahwa untuk memenuhi kebutuhan ikan, pemerintah daerah terus berupaya meningkatkan produksi perikanan dengan memaksimalkan potensi di sektor perikanan tangkap, perikanan budidaya dan pengolahan hasil perikanan.

Peningkatan produksi perikanan dari ketiga sektor tersebut, ungkap dia, saat ini terus menunjukkan peningkatan yang signifikan dari tahun ke tahun. Bahkan, khusus peningkatan produksi ikan air tawar dan air laut, sejauh sudah mampu memenuhi permintaan pasar terhadap ikan di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) dan luar provinsi.

Sergai sudah menjadi salah satu lumbung ikan di Sumut, kata Bupati.

Namun, seiring dengan peningkatan tersebut, diharapkan agar animo masyarakat dalam mengkonsumsi ikan juga harus meningkat. Hal ini untuk mengurangi bahkan mencegah terjadinya stunting.

Tak ketinggalan, Ketua Tim Penggerak (TP) Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Sergai, Ny. Hj. Rosmaida Darma Wijaya juga secara berkesinambungan mengajak para orang tua di Sergai untuk menumbuhkan budaya makan ikan.

TP PKK melalui kegiatan Gemarikan mengkampanyekan beragam menu sajian ikan, termasuk yang sudah dikreasikan menjadi makanan olahan. Dengan demikian, diharapkan seluruh anak di Sergai suka makan ikan.

“Ayo makan ikan, agar anak sehat, kuat dan cerdas,” tandas Rosmaida dalam berbagai kesempatan.

Sebagai mitra pemerintah daerah, TP PKK Sergai terus melakukan upaya sosialisasi dan edukasi masyarakat untuk memantau tumbuh kembang anak di 1.000 hari pertama kelahiran. Secara medis, stunting itu adalah kondisi tubuh dan otak yang dinilai tidak berkembang secara optimal. Oleh karenanya, stunting dapat dicegah sebelum anak memasuki usia 2 tahun.

Kepada para kader PKK, Hj Rosmaida menyampaikan agar dalam kegiatan Gempur Stunting mampu berkolaborasi dengan pihak puskesmas. Sehingga, kualitas kesehatan anak dapat dipantu dan terhindar dari stunting.

Ia menyebut, pencegahan stunting sejatinya harus dilakukan sejak anak masih berada di kandungan. Selain memberikan asupan gizi yang baik, para ibu hamil diimbau memeriksakan atau berkonsultasi terkait kehamilannya, menjaga ASI eksklusif serta senantiasa memantau tumbuh kembang anak di Posyandu.

“Para kader PKK dan Posyandu agar tetap bersinergi dan bergandengan tangan dalam upaya percepatan pencegahan dan penurunan stunting melalui Kampung KB, Bina Keluarga Remaja, Bina Keluarga Balita, Posyandu Balita, Posyandu Remaja dan Dapur Sehat Atasi Stunting,” pintanya.

Aktifkan Program Kader Posyandu

Hj Rosmaida Darma Wijaya
Ketua TP PKK Kabupaten Sergai, Ny. Hj. Rosmaida Darma Wijaya (kiri) langsung menyasar ibu-ibu rumah tangga dalam mensosialisasikan pencegahan dan penekanan angka stunting. FOTO: DISKOMINFO SERGAI 

Selain itu
, ada pula Program Kader Posyandu yang pada bulan Oktober lalu diresmikan. Kader Posyandu diharapkan menjadi perpanjangan tangan Bupati dan Wabup Sergai dalam program pencegahan dan penurunan angka stunting. Melalui merekalah pesan-pesan dan edukasi terus disampaikan ke masyarakat.

Di sela peresmian Program Kader Posyandu, Wabup Adlin berharap kader Posyandu dapat memaksimalkan peran dalam pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Selain itu, dapat mengontrol agar anak-anak tidak mengalami stunting serta menyosialisasikan program pemerintah dalam pengentasan stunting.

Di kesempatan itu, Wabup juga mengungkap bahwa pihaknya menargetkan pada 2024 stunting di Kabupaten Sergai dapat di bawah 14 persen.

Tak hanya itu, Pemkab Sergai juga menggelar acara Rembuk Stunting tingkat kabupaten yang dilaksanakan pada 15 September 2022.

“Upaya penurunan stunting sudah menjadi salah satu agenda prioritas pemerintah yang juga tercantum dalam RPJMN 2020-2024. Oleh karenanya, kepada seluruh instansi dan stakeholder terkait agar mampu memetakan program, kegiatan, serta pencegahan stunting secara optimal di Kabupaten Sergai,” ujar Wabup ketika itu.

Ditegaskannya pula, stunting bukanlah sekadar permasalahan kekinian. Dampak stunting akan sangat terasa di masa depan.

Saat ini menurut data, 1 dari 4 balita di Indonesia kondisinya stunting. Bayangkan bagaimana kondisi masa depan bangsa jika masalah ini tidak mendapat perhatian yang serius. Anak-anak kita adalah generasi penerus bangsa,” tegas Adlin Tambunan.

Sergai Nihil Stunting di 2030

Hj Rosmaida Darma Wijaya
Ketua TP PKK Kabupaten Sergai, Ny. Hj. Rosmaida Darma Wijaya juga langsung berkomunikasi dengan anak-anak balita dalam gerakan Gemar Makan Ikan (Gemarikan). FOTO: DISKOMINFO SERGAI

Mengacu pada WHO, Wakil Bupati menyebut batasan jumlah keseluruhan kasus penyakit yang terjadi pada waktu tertentu (prevalensi) stunting di suatu wilayah adalah 20
persen. Secara nasional, sesuai dengan data yang dihimpun Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting mengalami penurunan dari sebelumnya di angka 30,8 persen di tahun 2018, menjadi 24,4 persen pada tahun 2021.

Hal serupa juga terjadi dalam skala Kabupaten Sergai. Kalau pada tahun 2019 prevalensi stunting kita berada di angka 36,2 persen, maka pada 2021 angkanya menyusut menjadi 20 persen,” terang Adlin lagi.

Dalam hal ini, lanjut dia, Kabupaten Sergai telah mencanangkan prevalensi stunting ada di bawah 14% pada tahun 2024 dan sudah nihil di tahun 2030.

Dia berpesan kepada seluruh pihak yang terlibat dalam upaya pengentasan stunting untuk dapat berperan aktif. Kepada para camat, kepala desa, jajaran tenaga kesehatan, kader PKK dan Posyandu hingga bidan, harus mampu menerjemahkan program yang telah disusun sebagai upaya melandaikan angka stunting.

“Posyandu juga mesti terus dilakukan. Dengan itu, kita bisa mengetahui balita mana yang punya risiko terhadap stunting, sehingga lebih mudah untuk melakukan upaya pencegahannya,” tutup Wabup Adlin. (*)


Pengolahan data dan penyajian informasi ini merupakan hasil kerjasama AgioDeli.ID dengan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Serdang Bedagai.

Share:
Komentar

Berita Terkini

 
Desain: indotema.com