![]() |
| Ketua DPRD Kota Medan, Wong Chun Sen, M.P.dB berpose bersama usai menggelar sosialisasi ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan di Medan Perjuangan, Minggu (27/9/2026). (Foto : agiodeli.id/ |
Agiodeli.id - Ketua DPRD Kota Medan, Wong Chun Sen, M.Pd.B menegaskan gotong-royong adalah saripati dari Pancasila itu sendiri. Hal itu disampaikannya dalam kegiatan Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan di Jalan Lubuk Kuda, Kelurahan Sei Kera Hulu, Kecamatan Medan Perjuangan, Minggu (27/6/2026).
"Tema hari ini adalah gotong-royong. Ini harus terus kita gaungkan karena sesuai dengan kebiasaan masyarakat kita," ujar Wong di hadapan warga.
Wong mengutip gagasan Bung Karno tentang Eka Sila, pemerasan Pancasila menjadi satu prinsip tunggal, yakni gotong-royong.
Menurutnya, gotong-royong merupakan sistem pertahanan Indonesia yang paling tangguh dalam menghadapi krisis, seperti yang terbukti saat Pandemi Covid-19 lalu.
"Masyarakat dan pemerintah saling bergotong-royong menghadapi pandemi saat itu. Begitu juga dalam menghadapi bencana, kita saling bergotong-royong, sehingga tantangan itu menjadi ringan," paparnya.
Dalam kesempatan itu, ia mengkritik menguatnya individualisme di era modern, karena antar tetangga sebelah rumah pun tidak saling kenal, seperti di negara-negara maju. Maka, jika terjadi sesuatu, tidak ada yang bisa menolong.
"Gotong-royong bukan sebagai beban tapi kewajiban untuk dijalankan. Bagaimanapun masyarakat tidak bisa hidup sendiri," tegasnya.
Wong menambahkan, nilai ekonomi pun bisa meningkat dengan gotong-royong. Seperti dalam rumah tangga, tidak hanya suami yang mencari uang tapi dibantu istri, sehingga kehidupan terasa ringan.
"Kalau mau membantu orang, jangan pandang suku, ras dan agamanya. Nilai yang terkandung dalam gotong royong adalah kebersamaan. Seperti kerja bakti sesama masyarakat yang dibantu TNI dan lainnya. Ini merupakan kerjasama yang baik," ujarnya.
Ia mencontohkan tradisi di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, di mana warga memiliki rumah kayu yang bisa diangkat bersama atau tradisi Mallet Boyat, dengan cara bergotong-royong.
"Gotong-royong dilakukan secara sukarela bukan dengan paksaan, agar terasa ringan. Kalau ada sampah di lingkungan kita, bersama-sama kita membersihkannya," paparnya.
Wong menekankan prinsip dasar: masalah kecil menjadi besar karena tidak ada yang mau mengerjakannya, sebaliknya masalah besar akan menjadi kecil bila dilakukan bersama-sama.
"Jangan sampai menunggu bantuan dari pemerintah. Ini juga salah. Indonesia tidak akan bercahaya dengan obor besar di Jakarta tapi Indonesia akan bercahaya dengan lilin-lilin kecil di desa-desa. Dengan bergotong-royong, setiap tantangan bisa kita selesaikan dengan baik," pungkasnya.
Sementara itu, mewakili Ketua Tim Kerja Bela Negara di Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Medan, Rahmah mengatakan pihaknya menangani 4 bidang: konflik, partai politik dan pemilu, ormas dan ideologi serta wawasan kebangsaan.
"Kita bisa menjadi duta Pancasila di lingkungan kita masing-masing. Salah satu caranya dengan mengamalkan nilai gotong royong," paparnya.
Lurah Sei Kera Hulu, Eko Hartadi, M.A.P menambahkan implementasi nyata Pancasila di wilayahnya adalah peningkatan keamanan lingkungan dengan memasang 11 CCTV di sejumlah titik di kelurahan. (Dicky)
